bersama keseorangan
menulis kesedihan kota yang memucat
mendengar derai tawa Sang Malam
dengan hati-hati
meninggalkan segala kotoran,
bising mobil,
mulut-mulut celupar
di tepi jalan.
hanyut bersama masa,
dan aku toleh ke belakang
mengutip ingatan yang tertinggal
di wilayah yang aku berjanji
mengejar tiap-tiap dosa
yang berkeliaran,
antara kelajuan masa
atau kebodohan diri dan dalam
sibuk-sibuk yang menekan.
menjadi pejuang tanpa air mata
pencari yang kehilangan,
berjalan di bawah payung
kebenaran yang merajuk,
atau mendengar nyanyian dan gurauan
kelas-kelas binatang sosial
semuanya aku biarkan
berbaris tanpa susunan
bersepah di atas meja
menanti waktu untuk dihadam
bersama sejarah yang semakin padam.
*menyempurnakan draft-draft lama.